Surat Untuk Dinda




Kepada adinda di tempat

Assalamualaikum WR WB

Apa kabarnya Dinda hari ini? Semoga saja Dinda selalu diberikan kesehatan dan keberkahan umur oleh Allah SWT. Amiin

Hari ini Dinda, Abang sudah hampir 3 minggu di Jakarta. Sudah 5 hari menempuh kuliah di dalam kelas. Dan Alhamdulillah Abang sehat walafiat

Dinda, Jakarta tentu saja menawarkan pengalaman baru bagi Abang yang biasa bersepi di Aceh sana. Tapi tak kalah serunya, ruang kuliah itu juga memberikan khasanah yang berbeda. Ada seorang dosen yang mengajar dengan cara yang tak sama seperti di tempat kuliah kita dulu. Beliau atraktif dalam isi pikiran dan kreatif dalam tindakan. Abang tidak mengantuk di kelas beliau. Mungkin Dinda masih ingat saat dulu kita dan teman-teman lainnya sering merasa ngantuk dan bosan ketika kuliah S1. Sekarang Abang tahu jawabannya. Ternyata, sebagian dosen kita dulu mengajar seperti mengajar anak SD. Kita disuapi ilmu pengetahuan Dinda. Persis sama seperti kita yang diasupi makanan ketika kecil. Coba Dinda bayangkan apa jadinya Dinda jika terus disuapi semenjak lahir hingga dewasa seperti sekarang ini. Tentu Dinda tak sedewasa seperti sekarang. Dari SMA sampai masa kuliah, kita diajarkan untuk hanya disuapi ilmu pengetahuan. Padahal dinda, di atas kemampuan “mengetahui” ilmu, ada tingkatan lain seperti menganalisis dan penerapannya. Semenjak kecil, kita terbiasa dihidangkan ilmu pengetahuan. Dari muda sampai tua kita belajar menerima ilmu tanpa diajarkan untuk menganalisanya. Abang pikir-pikir, mungkin ini penyebab banyak teman-teman kita yang mudah termakan hoax di media sosial. Apa yang dihidangkan oleh internet, itu yang mereka telan bulat-bulat.

Dinda, ilmu itu hilang jika tidak dipakai, hilang jika tidak dipikirkan atau digunakan sama sekali. Ibarat air yang menguap sendirinya jika tidak digunakan. Dari dulu kiita hanya diperlakukan seperti ruang kosong yang perlu diisi oleh sesuatu. Sungguh tak adil Dinda. Padahal mesin saja diberikan kemampuan untuk mengolah apa yang masuk padanya. Mesin ditugaskan untuk mengolah bahan bakar yang dimasukkan padanya agar menjadi tenaga gerak dan lain-lainnya.

Abang ingat, dulu Dinda pernah “protes” tentang kegiatan kuliah kita yang itu-itu saja. Pergi pagi pulang sore. Berangkat duduk di motor, lalu duduk mendengar dosen sampai sore di ruang kuliah, dan malam pun duduk membuat tugas yang kebanyakan copy paste dan merangkum. Pun jika diskusi, Dinda tahu sendiri keadaan kelas. Yang mempresentasi sibuk sendiri, pendengar sibuk sendiri dan dosen pun menyibukkan diri. Hanya sesekali menatap ke arah mahasiswanya ketika kelas sudah terlalu riuh. Bahkan, kita saling mengenal saat riuh ramai di kelas itu kan? Tak ada yang terlibat kecuali pemateri yang sedang maju saja. Tadi Abang belajar bahwa kegiatan pembelajaran harusnya menarik, atraktif dan memancing rasa ingin tahu. Pembelajaran akan membosankan jika tidak ada hal yang menarik. Sama halnya dengan Abang yang tidak mungkin jatuh hati ke Dinda jika Dinda orangnya biasa-biasa saja. Di lain waktu, Abang pingin belajar bersama Dinda tentang 4 teori motivasi biar nantinya kita tidak menjadi guru yang membosankan.

Dinda, awal mulanya mungkin Abang dan Dinda sama-sama ragu ketika masuk ke Prodi ini ketika kuliah dulu. Tapi makin ke sini, Abang yakin bahwa pilihan itu bisa menjadi lahan amal yang besar jika kita tidak berhenti belajar dan berusaha. Pekerjaan apa lagi yang bisa membuat pekerja-nya menjadi sebaik-baiknya manusia dengan berguna secara langsung? Pekerjaan apa lagi yang lebih menarik daripada melihat seseorang mengetuk pintu dan masuk dengan wajah suram namun kembali menuju dunianya dengan wajah penuh rona harap dan cinta?

Dinda, doakan Abang untuk mampu terus intropeksi diri jika semangat belajar sedang turun. Doakan Abang untuk bisa belajar dari ruang kelas dan orang-orang sekitar. Doakan Abang untuk bisa kembali dengan ribuan hal baru dan melalui tantangan selanjutnya dengan seorang perempuan energik dan ceria. Kamu, Dinda.


Jakarta, 21 Februari 2018



Muhammad Ikbal


Note, Dinda untuk saat ini masih tokoh fiksi

3 comments: