Kenapa Sebagian Orang Sulit Sekali Merasa Cukup?


Ketika seseorang merasa cukup kenyang, di saat itu ia merasa tak perlu lagi melewatkan makanan ke tenggorokan. Di saat tubuh dirasa cukup bersih, maka tak ada alasan untuk mandi. Cukup adalah sebuah kata yang mengakhiri/membatalkan sebuah kegiatan. Cukup ialah aksara yang menandakan ambang batas. 

Banyak kebutuhan yang wajib dicukupi. Jika tidak dipenuhi dengan cara yang baik, pencukupan akan dilakukan dengan cara-cara merusak. Misalnya, Makan itu kebutuhan mutlak, dan ada orang-orang tak beruntung mencukupkan kebutuhan itu dengan mencuri; Pemukiman ilegal dan kumuh merupakan bentuk dari ketidakmampuan untuk mendirikan rumah yang layak huni; dan banyak contoh lainnya 


Lalu timbul pertanyaan di benak, jika perilaku merusak selalu berasal dari ketidakmampuan untuk mencukupi keperluan, kenapa orang-orang kaya harta juga melakukan kebiasaan destruktif? Kenapa ada pejabat yang hartanya tak habis tujuh turunan tetap melakukan korupsi? Kenapa ada anak yang memiliki orang tua kaya, segala kebutuhan tercukupi namun sering terlibat perkelahian? Mari kita bahas lebih lanjut.

Kebutuhan tidak selalu berbentuk materi. Tidak hanya berbentuk fisik seperti uang, rumah dan pakaian. Ada kebutuhan-kebutuhan lain yang bersifat batiniah atau rohaniah. Abraham Maslow, psikolog asal Amerika, menggolongkan kebutuhan manusia ke dalam 5 tingkatan. 

Maslow memang menempatkan kebutuhan mempertahankan hidup secara fisik sebagai yang paling utama karena tanpanya manusia tidak bisa eksis. Tapi 4 tingkatan di atasnya justru diisi oleh sesuatu yang tidak bisa diukur seperti kebutuhan akan rasa aman, kasih sayang, penghargaan dan aktualisasi diri. Untuk memudahkan, kita sebut saja kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan batiniah. Untuk memahami lebih lanjut Teori Kebutuhan Maslow, silakan lihat gambar berikut.

 

Pada kebutuhan fisik atau lahiriah, ada sebuah takaran yang perlu dipenuhi agar merasa nyaman. Keinginan makan mewah mungkin bisa dikompromi, tapi tidak dengan rasa lapar. Asa untuk membangun rumah megah mungkin bisa ditawar, tapi tidak dengan tubuh anak istri yang membiru karena kedinginan udara malam. Ada batas takaran pencukupan di situ, asal perut tidak keroncongan, asal anak istri tidur nyaman setiap malam. Lalu, kenapa banyak dari kita tidak cukup hanya sampai di situ, asal gizi terpenuhi dan tidak lapar, asal tubuh terlidungi dari cuaca ekstrem? Jawabannya, karena 4 kebutuhan batiniah lain belum tercukupi.

Itulah sebabnya kenapa ada anak orang kaya dan ganteng/cantik tapi main-main dengan narkoba dan terlibat pergaulan bebas. Pemenuhan Kebutuhan fisik dengan uang mungkin tuntas, tapi belum tentu dengan kebutuhan batiniah. Ada kasih sayang yang mungkin tidak mereka dapatkan dari orang tua yang pergi pagi pulang tengah malam. Absennya penghargaan dari orang sekitar membuatnya tidak merasa berharga.

Ada dua kecenderungan yang akan dilakukan ketika kebutuhan batiniah tidak tercukupi. Pertama, kebutuhan batiniah itu dialihkan dengan pemenuhan kebutuhan akan kebahagiaan fisik/materi yang sesaat dan berlebihan. Sesuatu yang tidak diisi dengan hal baik akan diisi dengan hal buruk. Ketika kebutuhan batiniah berupa kehangatan keluarga tidak lagi tersedia, remaja menggantinya dengan menikmati narkotika. Di saat pujian dari orang tua tak pernah didapat, bukan satu dua kali anak ABG bermain ilusi, merasa keren dengan memacu motor berkecepatan tinggi. Ketika harga diri belum terlalu tinggi, banyak pejabat yang mudah terintimidasi. Saat orang lain tampil lebih megah, korupsi uang rakyat menjadi pilihan untuk tampil lebih wah

Kedua, kebutuhan batiniah yang kurang dipenuhi didapat dengan menekan orang lain untuk merasa lebih tinggi. Banyak orang yang bersikap merendahkan justru karena diri sendiri belum merasa tentram. Banyak pem-bully yang secara tidak sadar mendasari perilakunya karena harga dirinya yang rendah. Rasa rendah diri itu membuatnya tidak bahagia, dan cara termudah untuk “merasa lebih tinggi” yakni dengan merendahkan orang lain, membully orang lain. Tak sedikit orang yang bergosip justru karena tak tentram ketika melihat kekurangan diri sendiri dan mencari kebahagiaan dengan menghafal-hafal kekurangan orang lain.

Lalu apa yang harus dilakukan jika kita ingin bahagia tapi kebutuhan psikis/batiniah belum terpenuhi?

Yang paling pertama dan utama untuk merasa bahagia tentu saja memenuhi kebutuhan fisik seperlunya. Karena tanpa fisik yang sehat, sulit mendapat jiwa yang kuat. Makan asupan yang penting bergizi, tak perlu mewah. Kenakan pakaian yang penting membuat percaya diri, tak mesti berkelas atas. Penuhi kebutuhan fisik seperlunya, lalu lanjut ke kebutuhan batiniah.

Sebagai langkah awal pencukupan kebutuhan batin, ialah menentukan standar tentang kebutuhan, bukan keinginan. Terkadang, hidup ini berat bukan karena kita tak meraih apa yang dibutuhkan, tapi lebih kepada sulitnya mengontrol keinginan. Dengan media sosial sebagai sarana "pamer", kita seringkali dihadapkan untuk keinginan agar sama seperti apa yang dilihat di layar smartphone.

Disadari atai tidak, melihat sesuatu yang terlalu mentereng di beragam media sosial membuat kita Insecure, risih, dan merasa rendah diri. Merasa rendah diri itu menjadi-jadi ketika kecantikan dan kekayaan yang kita lihat di layar smartphone setiap hari justru tak kita miliki. Dan lambat laut, alam bawah sadar menuntut agar diri ini sama "hebatnya" dengan para para selebgram itu. 

Setelah kita menyusun ulang dan membedakan mana keinginan dan kebutuhan, maka kita bisa lanjut ke langkah yang mudah untuk dikatakan tapi sulit dalam pelaksanaa, yakni  memenuhi 4 kebutuhan psikis yang lain.  

Jika diri ini kurang kasih sayang, sayangilah dulu diri sendiri. Karena tidak mungkin orang menyayangi kita jika kita sendiri tidak menyayangi diri sendiri. Jika kita mudah terintimidasi orang lain, cari rasa aman. Timbulkanlah rasa mampu dalam diri dengan keberhasilan-keberhasilan kecil dalam hidup.  

Jika kita minus harga diri, cek dulu standar apa yang kita jadikan acuan sehingga bisa merasa berharga. Jika kamu hitam tapi kamu menilai bahwa dirimu akan dihargai orang jika berkulit putih, sampai kapanpun kamu tak akan merasa berharga. Jika standarmu sudah diperbaiki, bergeraklah. Pelaut yang handal lahir dari laut yang keras. Harga diri meningkat setelah kita meningkatkan kualitas diri.

Kalau kita belum bisa membuktikan kemampuan diri, lakukan banyak hal, lalu temukan apa yang menjadi potensi dan kehebatan diri sehingga kebutuhan aktualisasi diri terpenuhi.


Di tulis, untuk mengingatkan diri sendiri


Jakarta, 5 Februari 2018

No comments:

Post a comment