Subjektivitas orang dewasa yang bikin rugi anak muda

Bias dapat timbul karena perbedaan, termasuk perbedaan warna kulit

Kita selalu membutuhkan orang lain agar mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Hal inilah yang sering membuat kita rela menunggu orang berjam-jam karena demi pemenuhan kebutuhan tersebut. Keperluan untuk saling membutuhkan ini berlaku pada level kecil seperti meminta tolong teman untuk mengambilkan kunci sepeda motor yang tertinggal, atau pada level lebih besar seperti keberlangsungan ummat manusia. Jika laki-laki tidak membutuhkan perempuan atau sebaliknya, umat manusia akan punah bukan?

(Yang pendukung gay dan lesbian pasti bantah. :D  :D)

Bagi sebagian dari kita yang bisa dibilang “belum jadi orang”, kebutuhan akan orang lain sangat besar. Kita butuh orang tua untuk membiayai biaya kuliah, butuh guru untuk mempelajari hal tertentu, butuh atasan untuk tanda tangan surat dan lain-lain. Mereka tidak selalu bermakna orang dewasa atau lebih tua dari kita. Mereka bisa saja orang yang memiliki jabatan tinggi, uang yang banyak atau memiliki tugas dan wewenang tertentu. Mereka bisa saja Presiden, manager, dosen, guru, Costumer Service, pelayan, satpam dan lain-lain. Namun untuk mempermudah penulisan dalam postingan ini, mari kita generalisasikan mereka sebagai “orang dewasa”. Dan sebutlah diri kita yang membutuhkan bantuan sebagai “anak muda”.

Karena sifat-sifat orang dewasa ini beragam, respon atau perlakuan yang kita dapatkan pun berbeda-beda. Ada yang memperlakukan kita adil dan tidak adil. Ada yang mempermudah urusan dan ada yang memperlambat. Ada yang ramah bukan main dan ada yang killer bukan kepalang. Para orang dewasa ini memang sudah sepatutnya berlaku profesional, namun mereka juga manusia yang punya kekurangan. Salah satu kekurangan yang terkadang bikin kita kesal adalah bias-bias dan sikap subjektif ketika mereka memperlakukan kita. Bias dapat dimaknai sebagai penilaian subjektif atau kecenderungan pribadi atas suatu hal yang tidak menggambarkan kondisi semestinya.

Lalu, bias-bias apa saja yang sering kita temui ketika kita bertemu dengan orang dewasa ini. Berikut adalah rangkumannya:
  1.  Bias Cantik/Ganteng atau jelek
    Yah, bias kategori ini merupakan bias yang paling menyebalkan sedunia. Atau bias paling asyik bagi mereka yang kebetulan punya wajah yang enak dilihat. Mungkin kita semua (yang agak jelek dikit maksudnya, hehe) pernah merasa kesal ketika mesti berurusan dengan “orang dewasa“ yang memiliki bias seperti ini. Misalnya, ada bapak-bapak yang kita gak tau kenapa dari pertama bertemu selalu bermuka garang, eh pas cewek cantik datang langsung senyum maksimal bagai ABG ketemu paduan hati. Dalam hal ini, beruntunglah bagi orang-orang yang berwajah selayaknya artis, semisal Angelina Jolie atau Leonardo Dicaprio. Nah kalau "kurang ganteng" gimana? Masa udah rapi-rapi, pakek minyak wangi seliter, minyak rambut sebotol, dan CV setebal novel. Tapi pas masuk ruang interview, pewawancaranya malah bilang, “maaf mas, gak pesan bakso, lagi puasa!!” Hahaha. Sedih kan?
  2. Bias “kamu mirip dengan saya, kerabat, dan musuh”
    Bias yang satu ini timbul karena pengalaman “orang dewasa” di masa lalu. Kesan baik atau buruk yang didapat orang dewasa dari orang di masa lalu bisa saja memberikan imbas pada orang yang mirip secara fisik dan sikap di masa kini. Misalnya, ada ibu dosen yang punya pengalaman kalah saing dengan wanita cantik berkulit putih ketika suka dengan laki-laki waktu sekolah dan kuliah dulu. Nah, jadilah terbangun persepsi negatif secara tidak sadar terhadap perempuan-perempuan cantik berkulit putih masa kini. Jika kamu kebetulan cantik dan berkulit putih, siap-siaplah tamat tujuh tahun kalau ketemu pembimbing yang kayak gini. Atau misalnya, kamu mirip banget dengan almarhum anak seorang pejabat di sebuah perusahaan. Wajah dan bahkan gaya bicara kamu mengingatkan si pejabat akan anaknya. Bisa aja bias ini memudahkan kamu dalam penerimaan kerja. Atau seperti layaknya di sinetron, jika si pejabat merupakan orang miskin yang membangun kariernya dari awal, dan kamu menceritakan bahwa kamu orang kurang mampu yang pekerja keras,  hal ini dapat membangkitkan rasa iba si pejabat dan memberikan kamu keuntungan. Enak kan?
  3. Bias kamu miskin atau kaya
    Bias ini merupakan bias yang selalu ada dari dulu sampai sekarang di sinetron-sinetron negeri kita. Di sinetron, kamu mungkin pernah liat seorang ibu kaya raya yang gak mau anaknya berhubungan dengan orang miskin. Prasangka-prasangka pun akan muncul seperti si miskin yang hanya mengincar harta dan lain-lain. Dalam dunia sehari-hari kita juga akan menemukan hal-hal yang seperti ini. Misalnya seorang CS (Costumer service) yang langsung berubah masam mukanya ketika ada pelanggan/klien yang menanyakan hal-hal yang terlalu umum. Mungkin si CS sedang bertanya dalam hati, “aduh nih anak, kampungan banget sih, itu aja mesti nanya!”. Atau bagi kamu-kamu yang “keliatan kaya”, makian atau prasangka negatif bisa saja timbul dari orang yang sedikit kurang beruntung. Kamu bisa saja dimaki di belakang oleh pelayan restoran ketika kamu sedikit meminta bantuan. Makian seperti “dasar orang kaya belagu” mungkin saja terucap di belakang layar. Padahal orang lain juga meminta bantuan yang sama tapi tidak mendapat makian dari si pelayan. Maklumlah, derita orang keren. Cieee ciee yang keereen. 
  4. Bias sosial budaya
    Tinggal di Negara dengan melimpahnya perbedaan suku budaya merupakan keuntungan sendiri. Berinteraksi dengan suku yang berbeda mampu memperluas sudut pandang dan cara berpikir. Namun begitu, banyaknya perbedaan juga menimbulkan konflik di sana sini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan prasangka negatif terhadap suku budaya lain. Prasangka negatif ini secara tidak sadar mampu mempengaruhi persepsi setiap anggota kelompok budaya terhadap kelompok budaya lain. Maka terkadang kita akan menemukan bias-bias “orang dewasa” yang dipengaruhi oleh perbedaan budaya ini. Pedagang, sopir, pejabat dan orang dewasa lain akan bersikap lebih ramah ketika mengetahui kalau kita berasal dari suku yang sama. Hal yang sama berlaku pada hal sebaliknya. Terkadang akan ada sikap hati-hati, tidak ramah dan memasang jarak ketika “orang dewasa” memiliki persepsi negatif terhadap kita yang berasal dari suku tertentu. Bias kategori ini cakupannya luas. Yang jelas, bias ini timbul dan menjadi anggapan umum bagi sebagian orang. Seperti misalnya anggapan bahwa orang yang berkulit hitam bodoh dan jarang mandi serta orang berkulit putih yang pintar dan bersih. Atau contoh lain seperti anggapan bahwa orang yang berkening lebar dan berkacamata sebagai orang yang pintar. Sebenarnya saya ingin memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari tentang bias yang satu ini. Tapi diurungkan untuk menjaga perasaan suku budaya dan kelompok tertentu. Saya kan cinta tanah air...   :D  :D  :D
  5. Bias "kondisi terikat" 
    Bias ini adalah bias yang timbul karena disebabkan keterikatan antara dua pihak. Keterikatan ini bisa berbentuk ikatan saudara, teman dan relasi lainnya. Di negeri kita tercinta, bias ini sudah menjadi penyakit akut yang kita kenal dengan nama nepotisme. Asal teman, semua urusan jadi mudah. Asal saudara, semua jabatan dan pekerjaan menjadi mudah diberikan. Namun begitu, bias "kondisi terikat" di sini tidak melulu berbentuk hubungan darah dan relasi biasa, cinta juga bisa tergolong bias ini. Karena cinta, hubungan antara dua orang bisa lebih erat dari ikatan darah dan bahkan bisa melampaui batas norma. Banyak orang yang lupa siapa dirinya dan jabatan yang diembannya karena cinta. Bersebab cinta, banyak pertemanan menjadi renggang. Bersebab cinta, cemburu pun membahana. Itulah sebabnya ada istilah cinta itu buta, makanya meraba-raba  :D 
Yah, segitu dulu bias-bias yang bisa dipikir oleh kepala saya. Kalau ada ide, kasih tau ya...   Bagi kamu-kamu yang mendapatkan keberuntungan karena bias-bias ini maka bersenang lah. Lalu bagaimana dengan kamu yang kurang beruntung? Yah, kalau bisa ngomong baik-baik silahkan dibicarakan dengan kepala dingin. Namun kalau tidak, itu DL lah.. Derita Luu   :D  :D



2 comments: