Kenapa Menulis Itu Menyenangkan?

Dalam banyak hal, terkadang orang memberikan harapan dan doa dalam sebuah pujian. Misalnya ada seorang anak yang menjadi juara umum akan diberikan pujian seperti, “semoga kamu jadi dokter nanti”. Atau seorang ayah akan berkata kepada anaknya yang hobi main bola, “mudah-mudahan bisa main di U19 kalau kamu besar nanti”. Bagi saya sendiri, beberapa teman pernah nyeletuk kalau saya sekarang lagi sibuk nulis dan bakalan ngarang buku. Yah, saya sih gak bisa bantah, hanya senyum aja sambil bilang “ cuma iseng kok”. Gimana mau jadi penulis coba kalau gaya nulis aja masih kacau. Mulai nulis pun baru setahun belakang, itu pun di blog gratisan yang templatenya aja template asli dari blogger karena belum bisa desain sendiri. Parahnya lagi, karena asal download dan sok-sok bisa edit html, tiap download template baru pasti hasilnya jadi kacau, jadi ya pakek yang asli aja karena udah putus asa. Kembali kepada topik, apakah saya mau nulis karena dengan tujuan mau ngarang buku? Mau jadi blogger terkenal? Wartawan atau apa gituh? Jujur saya gak tau mau jawab apa, mau dibilang enggak kan gak ada yang tau nasib kita ke depan, mau jawab ya rasanya terlalu terburu-buru, liat aja nanti. Harapan selalu ada, yang penting kejar kuantitas tulisan dulu baru kualitas. Karena menurut senior-senior saya di FLP Aceh, kualitas akan berkembang sejalan dengan bertambahnya kuantitas tulisan.

Sebenarnya ada benarnya juga jawaban saya di atas, saya menulis karena iseng doang. Ya berasa seneng aja kalau nulis, semacam kita melampiaskan isi kepala dan ngobrol sama orang lain. Dalam beberapa hal, saya pikir lebih bagus nulis dari pada ngomongin pikiran kita ke orang. Banyak dari yang saya perhatikan kalau lagi ngobrol, setiap orang hanya mau membicarakan apa yang dia pikirkan. Memang gak semua sih, tapi kan berasa kesal juga setelah dengerin temen kita ngomong panjang lebar, terus giliran kita mau ngomong dikit semisal, “Eh, cewek yang gwa suka udah mau nikah,” eh si temen malah ngomongin ceweknyaa sendiri seperti , “Oh ya, ngomongin tentang cewek, gwa baru aja udah putus sama si Nina,” dan blab la bla. Gak enak kan? Ketika kita mau ngomongin satu topik berkenaan dengan kita, lawan bicara selalu nyambungin dengan topik yang sama tapi berkenaan dengan masalah dia. Lah kapan kita mau ngomongnya. Saya gak tau sebabnya, apa mungkin karena saya keseringan ngangguk sampe dia ngomong terus atau karena sayanya aja yang gak antusias pas ngomong sehingga gak dianggap penting. Entahlah, tapi rasanya lebih enak mendengarkan dengan penuh perhatian daripada berbicara tapi dipotong lawan bicara. Hal inilah yang membuat menulis itu terasa menyenangkan bagi saya, ibarat berbicara sama orang yang betul-betul mendengarkan. Tak ada yang bantah dan kalau gak setuju tinggal komentar, itupun kalau pas hati mau balas. Dalam menulis, kita gak perlu melihat tingkah menyebalkan teman ketika kita sedang berbicara serius. Kita gak akan terganggu dengan teman yang sibuk dengan upil, hp, dan MP3 Playernya. Kita gak perlu terganggu dengan bahasa tubuhnya yang jelas-jelas tak memberikan perhatian kepada apa yang kita bicarakan. Menulis memberikan kita kebebasan untuk “berbicara”.

Alasan lain kenapa suka menulis adalah karena saya dan mungkin juga sebagian pembaca merupakan orang yang tertarik sama banyak hal. Semua di baca, mulai dari politik, bola, agama, buku, kesehatan, film, musik,  dan banyak lainnya yang gak mungkin saya tulis satu-satu. Rasanya susah aja kalau kita mesti ngunjungin teman tertentu hanya untuk ngomongin satu hal yang dia juga suka. Ibaratnya kita mesti ketemu dulu sama teman yang suka bola buat ngomongin bola, film buat ngomongin film, buku buat ngomongin buku dan lain-lain. Sedangkan gak semua orang tertarik pada hal yang sama dengan apa yang kita pikirkan. Nah, dalam menulis semua ini terjawab, kita tinggal “ngomong” aja tentang apa yang sedang kita pikirkan di blog, terus share di media sosial. Terserah mau ada yang baca atau enggak, yang penting pikiran kita “didengar”.


Selamat Menulis Saudara-saudara.

1 comment: