Menimbang Pencapresan Jokowi

Hari ini kita dikejutkan dengan berita resminya Jokowi di Capreskan dari Partai PDIP. Tentu ada yang pro dan kontra. Mereka yang pro merupakan Jokowi lovers. Alasan mereka, Indonesia sudah saatnya dipimpin oleh seorang yang merakyat seperti Jokowi. Sedangkan yang kontra menuding bahwa jokowi serakah dan haus kekuasaan, belum sampai 2 tahun menjabat gubernur udah nafsu jadi presiden.

Saya adalah orang yang termasuk suka dengan jokowi. Tapi tidak terlalu fanatik. Sehingga tidak menutup mata saya untuk mencari informasi tentang calon presiden yang lain. Tidak serta merta karena siaran televisi di bombardir dengan nama jokowi terus membuat kesimpulan buta tanpa melihat sudut pandang yang berbeda. Kita sering kali harus objektif menilai pemimpin. Tidak bisa hanya karena benci dengan pemimpin sekarang lalu memilih pemimpin yang berbeda 180 derajat. Memilih pemimpin itu tidak bisa dengan sistem traumatik. Ibaratnya memilih pacar baru, kita akan memilih pacar yang berbeda jauh dari mantan kita. Karena kita traumatik dengan mantan terdahulu. Namun apakah memilih pemimpin seperti memilih pacar baru?. Tentu tidak. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan.


Jokowi selaku pemimpin DKI Jakarta, merupakan calon presiden yang elektabilitas keterpilihannya cukup besar dari berbagai survey nasional. Hal ini tak lepas dari gaya blusukan Jokowi yang menjadi pemberitaan hangat dimedia dan mampu menyihir para pemirsanya. Namun apakah itu cukup menjamin kita bahwa jokowi cocok memimpin negeri ini?.

Dalam hal ini, tiga hal menurut saya yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih Jokowi sebagai prsiden.

1.   Atasan Jokowi rakyat atau megawati?

Untuk saat ini, kita sudah melihat bahwa jokowi sangat tunduk kepada Megawati selaku pemimpin partai PDIP. Selama mejabat sebagai gubernur, jokowi sudah beberapa kali meninggalkan kepentingan rakyat Jakarta demi partai. Bagaimana jika beliau nanti jadi presiden?. Apakah kita akan kembali mengulang kisah lama dengan SBY yang terkadang lebih sibuk mengurusi partainya dari pada Negara. Menurut keadaan sekarang, logis kalau kita berfikir bahwa jika Jokowi jadi presiden, beliau tak lebih dari sekedar boneka Megawati. Hal ini tergambar baik dalam tulisan Solehhuddin Dori di sini.

2.   Yakinkah blusukan bisa diterapkan dalam skala nasional?

Selanjutnya, kita terkadang fanatik buta dengan sistem blusukan Jokowi. Sebagian rakyat menilai bahwa blusukan lah yang diperlukan negeri ini. Namun, dalam konteks lebih luas, apakah blusukan bisa diterapkan dalam skala nasional. Berapa banyak waktu, uang dan tenaga yang dihabiskan hanya untuk blusukan ke seluruh pelosok negeri. Saya cenderung pesimis menilainya. Jika jokowi melihat jalan berlubang di sudut jalan jakarta ketika blusukan, beliau tentu saja bisa memecat kepala dinas terkait. Namun di Indonesia yang setiap daerah memiliki pemimpin masing-masing. Bisakah jokowi memecat “raja” dari masing-masing daerah itu?. Atau anggaplah jokowi hanya menegur pemimpin daerah yang bermasalah, di tengah “lebay” nya pemberitaan media. Bisa-bisa headline yang timbul, “jokowi vs gubernur tertentu”. Bukannya menyelesaikan masalah, malah mungkin akan menambah masalah.

3.   Jokowi, pemimpin atau dewa?

Kita tentu masih ingat dengan slogan Jakarta baru ketika Masa kampanye Pilgub DKI Jakarta. Jakarta yang bebas banjir dan macet. Namun setahun lebih menjabat, apakah Jakarta sudah bebas banjir dan macet?. Media selama ini membentuk opini pada public bahwa jokowi adalah seorang “dewa”. Dia datang menyelesaikan masalah. Turun ke gorong-gorong kecil, naik gerobak ketika banjir, dan aktifitas lainnya yang dinilai merayat. Namun apakah pemimpin sama dengan dewa?. Jawabannya tidak.  Dewa beraksi sendiri tak perlu bantuan manusia. Berbeda dengan pemimpin. Pemimpin itu mengontrol, mengajak bekerja bersama-sama. Kepanitiaan kecil saja membutuhkan kerjasama antara anggota, ketua bidang dan ketua panitia. Apalagi memimpin provinsi dan Negara. Butuh kerja sama anta penyelenggara Negara dan rakyat. Tau kenapa jakarta masih banjir? karena rakyatnya tak diajak kerja sama untuk membuang sampah pada tempatnya. Ini hanya sekelumit contoh dari jakarta. Segudang program untuk mengatasi banjir tak akan berguna kalau rakyatnya masih membuang sampah sembarangan.

Pemimpin yang dibutuhkan negeri ini.

Pemimpin yang dibutuhkan negeri ini bukanlah pemimpin yang berkata, “pilihlah saya, saya akan menyelesaikan masalah”. Tidak. Pemimpin yang dibutuhkan negeri ini ini adalah pemimpin yang memiliki program visioner  dan yang lebih penting adalah pemimpin yang mampu menggerakkan semua orang untuk sama-sama turun tangan menyelesaikan masalah bangsa ini. Karena Negara seluas Indonesia tak akan mampu diurus oleh satu orang. Pemimpin yang yang dibutuhkan negeri ini adalah pemimpin yang mempunyai kemampuan menggalang dukungan massa.

Lebih lanjut, ditengah kondisi politik di Indonesia yang penuh dengan konflik kepentingan. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan dalam memenangi negosiasi dalam tarik menarik di antara berbagai kepentingan.  Terlebih lagi dengan banyaknya “raja-raja” kecil di daerah-daerah, presiden dituntut untuk memiliki kemampuan dalam negosiasi agar program nasioanal dapat terealisasi dengan baik didaerah. Masih ingat tayangan Mata Najwa yang menghadirkan walikota Surabaya, Tri Risma Harini. Secara tersirat, alasan mundurnya ibu risma karena tekanan politik yang besar dari DPRD. Itu hanya contoh kecil, mengurus kota saja penuh dengan kepentingn politik, apalagi memimpin Negara.

Tulisan ini sekali lagi tidak bermaksud menyudutkan Jokowi. Tapi sebelum memilih, kita juga perlu mempertimbangkan beberapa hal. Tidak fanatik buta, sehingga menolak informasi yang kontra. Saya juga memiliki kemungkinan besar memilih jokowi nanti. Tapi sekali lagi, butuh pertimbangan yang banyak untuk memilih seorang presiden. Mari cari informasi lebih banyak lagi.

4 comments:

  1. Jokowi memiliki hati seorang pemimpin yang sangat cinta dan peka terhadap kehidupan rakyatnya. Tidak ada sosok yang sempurna, namun semua orang dapat melihat sikap tulusnya dalam setiap jenjang kepemimpinan yang telah dilaluinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga aja indonesia di pimpin oleh orang baik.. :D
      Mkasih sudah mampir

      Delete
  2. Tulisan yang menarik kawan, entah kenapa saya jadi kurang berminat lagi terhadap tokoh ini setelah diumumkan jadi capres. Menurut saya yang awam ini, sebaiknya buktikan dulu kinerja yang bagus di JKT. Toh, dia masih 1 tahun di sana sudah mau presiden. Itulah yang terjadi saat partai mendikte individu harus melakukan ini dan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin masih cocok disebut sebagai simpatisan partai, bukan negarawan.
      Seandainya capres 2014 ini masih pakek 4L (lo lagi lo lagi). kayaknya pak jokowi masih lebih baik. kalau ada yang baru dan baik lainnya. saya akan pertimbangkan.
      makasih udah mampir.

      Delete