Kita Dan Keinginan Merasa Istimewa


Baru-baru ini, kita dipertontonkan betapa brengseknya dua orang yang ngakunya youtuber. Youtuber pertama heboh karena konten “uji keimanan” yang menawarkan uang 10 Juta untuk mau berbuka puasa di siang bolong. Youtuber kedua viral dan masuk penjara karena prank dengan memberikan bingkisan berisi sampah dan batu bata. Mirisnya, sasaran konten youtube mereka adalah orang-orang di jalan yang berjuang untuk makan di bawah tekanan wabah corona


Beberapa bulan sebelumnya, dunia maya juga gempar. Kala itu netizen dihebohkan kasus pembunuhan Balita oleh tetangganya sendiri yang masih SMP. Cara dia melakukan pembunuhan cukup dingin. Gadis itu menenggelamkan balita itu ke dalam bak kamar mandi, lalu beranjak tidur dengan mayat bayi tergeletak kaku di lemari kamar tidurnya. Esoknya ketika ia menyerahkan diri ke kantor polisii, ia menyatakan puas telah membunuh si bayi.


Belakangan ini, entah mengapa, rasanya banyak betul orang yang ingin tampil tenar dengan cara-cara ekstrem. Si youtuber berhasil viral, walaupun tidak seperti yang diharapkan. Si gadis, entah ingin terkenal atau tidak, berhasil membuat banyak orang sadar akan keberadaannya. Melihat kasus Youtuber dan gadis yang membunuh balita itu, saya jadi teringat dengan buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson.

Kurva Lonceng


Menurut Mark Manson, manusia modern sangat gandrung menjadi berbeda. Di dunia yang penuh sesak, menjadi lain dari yang lain adalah cara mudah mendapat perhatian. Dan ada dua cara menjadi lain daripada yang lain, yakni dengan menjadi kelompok yang memiliki kelebihan atau kelompok berkekurangan. 


Nyatanya, kelompok berlebih dan sempurna ini hanya sedikit, yang paling banyak adalah yang biasa-biasa saja. Saya yakin banyak pembaca yang akrab dengan kurva lonceng berikut:

Ini adalah kurva sejuta kondisi. Banyak orang menyebutnya kurva lonceng distribusi normal. Kurva lonceng adalah gambaran umum segala kondisi normal. Bagian A adalah kelompok orang yang memiliki kekurangan. Bagian C adalah kelompok orang yang memiliki kelebihan. Dan B adalah kelompok menengah atau biasa-biasa saja.


Jika berbicara jumlah orang cantik di suatu kelas, orang yang betul-betul jelek (kel. A) dan orang yang sangat cantik (kel. C) itu jumlahnya sedikit, yang paling banyak adalah yang berwajah biasa-biasa saja (Kel. B). Kalau berbicara keadaan ekonomi masyarakat yang normal, jumlah keluarga ekonomi menengah (Kel. B)  lebih banyak dibandingkan keluarga dengan dengan ekonomi atas (Kel A) dan bawah (Kel. C). Intinya, orang dengan kondisi biasa saja di segala aspek (keuangan, kecantikan, kepintaran, dll) lebih banyak jumlahnya dibandingkan orang-orang dengan kondisi sempurna atau sengsara.

Kita tak ingin merasa biasa-biasa saja


Dari kurva lonceng, kita paham bahwa kebanyakan kita adalah orang yang biasa-biasa saja. Masalahnya, jadi orang biasa saja di zaman sekarang ini rasanya seperti tak dianggap di tengah keramaian. 


Tiap hari kita disuguhi 2 sisi ekstrim kurva, bukan orang rata-rata dan biasa saja. Di Instagram, wara-wari postingan wanita cantik, kaya dan pintar. Di TV, berulang-ulang kita disuguhi kemiskinan, pembunuhan, tawuran dan orang dengan perilaku negatif lain. Jarang orang-orang biasa disorot.


Masalahnya, kebanyakan kita adalah orang yang biasa-biasa saja! Dan beragam media informasi itu mengajarkan kita, jika kamu ingin dikenal, maka kamu harus sempurna atau sengsara/sangat buruk di berbagai aspek. Oleh karenanya, muncullah orang-orang biasa yang bersikap brengsek agar dikenal orang.

Menjadi berbeda di media sosial


Apa yang dilihat tiap hari secara sadar atau tidak membuat banyak orang biasa ingin tampil luar biasa. Ini sebabnya media sosial dipakai milyaran orang karena ia adalah alat untuk "dipandang" orang dengan cara mudah. 


Banyak orang yang menghabiskan waktu memikirkan caption terbaik di akun Instagram. Aplikasi pemulus wajah tenar karena jerawat di foto bukanlah ciri khas dunia gemerlap. Ratusan foto diambil dalam hitungan menit, padahal hanya satu atau dua foto yang diupload. Ini semua demi tampil beda dan glamor dari yang lain.


Di lain sisi, ada banyak orang yang berdiri di sisi berlawanan dari kemewahan. Alih-alih memasang foto jalan-jalan ke tempat yang lagi hit, banyak orang yang lebih suka berkeluh kesah.


Orang-orang ini adalah tipe "merasa jadi korban" yang suka sekali menyalahkan orang lain atas kesialan hidupnya. Orang tipe "merasa jadi korban" ini hobi betul berkata: “Kami apalah orang miskin, gak kayak kamu banyak duit” ; “Enaknya jadi elu apa aja keinginan tercapai, lah gua, untuk hidup aja susah” ; “Jadi orang cantik mah enak, tinggal milih cowok sesuka hati, gak kayak kita-kita yang mukanya pas-pasan”, dan ucapan-ucapan serupa itu.


Orang-orang ini seakan memanfaatkan kesialan hidupnya untuk meminta simpati dari orang lain. Anehnya, dengan cara yang menyebalkan. Seolah situasi berlebih yang dimiliki orang lain merupakan bentuk ketidakadilan alam semesta atas dirinya yang ternyata tak berkecukupan.


Pamer glamor dan kesengsaraan adalah cara orang-orang biasa untuk meraih perhatian. Dan kita sedikit banyak hampir sama dengan youtuber dan gadis yang membunuh balita. 


Si Youtuber dengan pongahnya menempatkan diri sebagai orang kaya, berakting bahwa 10 juta tak ada artinya, sedangkan orang di konten YouTube nya adalah orang kelas bawah yang mengharap bantuannya. Sama seperti kita yang menempatkan diri sebagai pujangga pencipta caption romantis dan menganggap follower kita sebagai pembaca budiman yang terkagum saat membaca tulisan puitis kita.


Si gadis tenar dengan cara yang merusak. Sama seperti sebagian besar kita yang suka berkeluh kesah merusak suasana hati orang lain

Orang delusional yang ingin dianggap spesial


Sebagian besar kita makhluk biasa-biasa saja namun bersikap bodo amat dan berhalusinasi agar diistimewakan.


Di kehidupan nyata, banyak orang yang tidak terima bahwa dirinya biasa saja dan menuntut diistimewakan orang lain. Banyak orang tua yang menuntut dihargai tanpa syarat karena umurnya. Ada senior yang gila hormat dari juniornya. Banyak pejabat yang maunya dilayani karena pangkatnya yang tinggi. Orang di golongan ini menuntut dihargai hanya karena ia tua, berpangkat dan memiliki posisi lebih tinggi. Tak peduli apakah ia menghargai orang lain atau tidak.

Baca Juga: Kenapa Ada Banyak Orang Jahat?


Di kasus yang lain, muncul halusinasi untuk menghadang realita menyakitkan sebagai orang biasa. Di keseharian, kita akan menemukan orang-orang ini sebagai pribadi tinggi hati nan besar mulut. Kemampuan biasa-biasa saja, namun berbohong dan bersikap sombong agar terasa tinggi dibandingkan orang lain.


Namun keinginan diistimewakan bukan hanya pada mereka yang menyombongkan diri, tapi juga pada kelompok rendah diri. Kelompok ini bukan tak bisa, mereka hanya takut atau malas berusaha. 


Mereka lebih suka melebeli dirinya bodoh daripada malas. Karena bodoh memberikan mereka hak memohon bantuan pada si pintar. Mereka lebih suka mencap dirinya miskin daripada berusaha lalu gagal. Karena mencap diri miskin memberikan hak untuk meminta pada yang lain. Malas dan takut gagal adalah pilihan, bodoh dan miskin adalah korban keadaan. Dan kelompok ini suka merasa istimewa dengan menjadi korban.

Berkembang dengan menjadi manusia biasa


Padahal, menjadi manusia biasa adalah jalan untuk berkembang.


Faktanya, menilai diri sebagai manusia biasa memberikan hasrat untuk giat mencoba. Buat apa mencoba jika derajat diri sudah dinilai tinggi. Buat apa mencoba jika kita menilai diri sebagai korban, bukan pihak yang membuat keputusan.


Banyak orang takut gagal karena menilai dirinya terlalu tinggi dan mengukur diri berdasarkan nilai itu. Ketika seorang guru menilai bahwa guru adalah manusia penting yang patut dihormati. Maka ukurannya adalah dihormati siswa. Yang sering terjadi adalah stres kerja dan marah-marah karena moral siswa yang berkurang atau bahkan bersembunyi dan pasif bersebab harapan tak sesuai kenyataan.


Banyak dari kita menilai bahwa pribadi sempurna adalah sebuah keharusan. Efeknya ketika berusaha namun gagal, kita marah atau menjadi rendah diri. Sulit rasanya berani gagal dan mencoba lagi jika nilai ini yang dipegang.


Merasa sebagai manusia biasa dan rata-rata memberikan kita kemampuan untuk berani gagal. Ketika harapan tak sesuai keinginan, kita tak akan merasa terlalu jatuh karena memang tak menilai diri terlalu tinggi. Ketika gagal, kita tak akan terlalu kecewa, karena sama seperti kita selaku manusia biasa, gagal juga biasa. Dan ketika  mengakui bahwa kita adalah manusia biasa yang bisa benar dan salah, di saat itu juga kita menjadi pribadi yang terus belajar belajar seumur hidup.


Mari menjadi manusia biasa….

No comments:

Post a comment