Virus Ibuku Untuk Anakku


Rasanya dada ini sesak ketika Ibu yang sudah begitu capek perlu menghadapi anak bengal ini lagi. Ia perlu ke sawah dari pagi hingga sore bersebab usaha ayah diperantauan tidak begitu berjalan baik.  Wajah letih tak bisa lagi disembunyikannya. Ia seharusnya istirahat sesampainya di rumah, bukan dirisaukan oleh anak-anaknya! Aku tak paham, jelas-jelas adikku yang salah. Rasanya kesal bukan main ketika Ibu dengan letihnya menasehati tapi ditanggapi dengan kata-kata kasar. Setiap kali Adikku melontarkan ucapan yang menyakiti hati Ibu, semakin panas hatiku. Sungguh memuakkan. Aku maju, bersiap dengan tinju. Di sebelah sana, ada adikku yang siap dengan tangan terkepal dan tatapan tajam menantiku. Itu bukan perkelahian pertama antara aku dengannya di masa kecil kami.



“Kamu pergi, Ibu bisa ngatasin sendiri!” kata Ibu dengan tegas padaku. Aku kecewa, tujuan ku ingin membelanya tapi kenapa aku yang dimarahi. Selalu saja setiap aku terpancing emosi untuk memihaknya di situasi seperti ini, ia bergegas menahan dan menyuruhku pergi. Saat itu, dengan hormon yang tengah menggeliat di tubuh remajaku, aku berpikir Ibu tak menghargai usahaku berpihak padanya. Di usia itu dengan keluguannya, aku berpikir sungguh aneh aku dimarahi, padahal aku membelanya.


Beberapa tahun kemudian, ketika sifat feminimku sudah tumbuh normal dan intensitas perkelahian dengan adikku sudah mulai berkurang, Ibu kembali melarangku untuk ikut berpihak. Bedanya, ini bukan terkait membela dirinya melainkan memihak salah satu bibi dari ayah ku.


Malam itu, salah satu bibi tertua (kakak ayahku) bertamu ke rumah. Selaku anak tengah dan laki-laki satu-satunya dari 3 bersaudara, ayahku mendengar dengan sabar cerita Bik Tua, panggilan daerahku untuk bibi tertua. Emosi Bik Tua meletup-meletup, terkadang menangis, terkadang menggeram dengan amarah. Bik Tua mengisahkan kekecewaannya tentang adiknya yang paling bungsu. Malam itu, aku tengah menonton TV di ruang tamu, tapi alih-alih menonton film yang tengah tayang, aku justru menyimak omongan Bik Tua yang lebih drama.


Sesaat ketika Bik Tua beranjak pulang, aku mendekati Ibu dan nyeletuk tentang betapa kejamnya perlakuan Bik Uda (panggilanku untuk adik ayah) terhadap Bik Tua. “Huus!”, desisnya sambil mencubit sedikit pinggangku.


“Ibu bilangin ya, kamu gak usah ikut-ikutan benci sama Bik Uda. Selama Bik Uda gak pernah nyakitin kamu, jangan pernah kesel sama Bik Uda”, ujarnya dengan nada yang agak tinggi.

“Iya, tapi kok bisa segitunya Bik Uda sama Bik Tua...”, protes ku


“Denger ya, kita kan cuma denger omongan Bik Tua aja, belum dari Bik Uda. Kamu gak bisa kayak gitu”, tuturnya.


Malam itu, nasehat Ibu agak panjang. Ia berkata bahwa aku tak boleh seperti sepupu-sepupuku yang ketika orang tuanya tengah konflik, ikut memutus tali silaturrahmi dengan sesama sepupu. “Biarlah orang tua yang cek cok, anak-anaknya jangan ikut-ikutan”, tutupnya.


Nasehat ibuku malam itu cukup mengena.  Aku merenung cukup lama. Berkat itu, aku mulai memahami dari mana asal munculnya sifat “sok penengah” dalam diriku. Aku ingat ketika masa-masa kuliah dulu, aku tak mudah terpancing membenci seseorang hanya berdasarkan gosip. Sesuatu yang justru sering dilakukan oleh teman-teman perempuanku. “Kita kan cuma denger omongan Bik Tua aja, belum dari Bik Uda”,  kenangku akan ucapannya malam itu


Aku juga mulai mengerti asal sikap “alami sendiri, baru tarik kesimpulan” dalam diriku. Aku tak lupa bagaimana kesalnya aku ketika lokasi tujuan liburan satu kelas berubah hanya karena satu orang berkomentar tentang betapa melelahkan dan tak menariknya  tujuan liburan kami. Super aneh saja rasanya menilai suatu hal tak menarik padahal kita belum mencobanya sama sekali. Lagipula, sejak kapan “menarik” beralih dari golongan opini ke fakta?


Malam itu aku belajar dari Ibu bahwa selalu ada dua sisi cerita dalam setiap kejadian. Kita tak akan bisa memahami sebuah kisah tanpa melihat dari beragam sudut pandang. Kita tak akan bisa memahami orang lain tanpa keluar dari perspektif sendiri. Pikirku, mungkin ini alasan mengapa Ibu melarang aku membelanya waktu kecil setiap kali ia cek cok dengan adikku. Aku belum cukup dewasa untuk memahami adikku. Aku belum cukup memahami dari mana asal sikap tantrum adikku. Aku belum memahami dari mana asal muasal rengekan menyebalkan itu. Karena jika aku memahaminya, mungkin aku tak akan memperlakukan adikku layaknya lawan tinju, melainkan seorang adik yang perlu kasih sayang kakaknya. Ia tak ingin aku membelanya hanya karena ia Ibuku. Ia ingin aku berdiri di sana, bukan saja sebagai seorang anak yang sayang sama Ibunya, melainkan juga sebagai kakak yang sayang terhadap adiknya.


Kini, sekitar sebulan setelah tanggal kelahiran anak pertamaku, aku berharap virus “penengah” dan “alami sendiri, baru tarik kesimpulan” bisa kutularkan dari Ibu ke anakku. Aku tak ingin dia hidup di zaman digital yang penuh tebaran kebencian dan hoax tanpa kedua virus itu. Aku tak ingin anakku merasa bahwa ia tahu segala hal dari layar HP-nya, padahal ia tak tahu apa-apa tentang perasaan dan pikiran orang lain.


Memahami orang lain (dan diri sendiri) adalah proses seumur hidup. Akan kutanamkan virus itu ke tubuh kecilnya dan menemaninya sepanjang hayatnya. Karena seperti kutipan Harper Lee dalam Novelnya, To Kill Mockingbird, “Kau tidak akan bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”.


Note: Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi, namun terdapat perubahan di sana-sini dari segi tokoh yang diceritakan di artikel ini untuk kemudahan memahami artikel dan menjaga silaturahmi penulis dengan orang sekitar.

No comments:

Post a comment