Kenapa banyak berita negatif di TV?




Mengupdate informasi sering dijadikan alasan untuk menghilangkan penat. Salah satu acara yang sering menjadi pengalihan di antara jam istirahat adalah berita, baik itu di TV, koran, radio,ataupun media online. Namun, jujur saja, apa yang pembaca rasakan setelah menonton atau membaca berita? Betulkah menghilangkan stres atau justru malah menambah resah di dada?

Dewasa ini, banyak orang yang mengeluhkan berita-berita yang bersiliweran lebih banyak negatifnya. Dengan alasan ini, tak sedikit pula orang yang berhenti bertahun-tahun menonton berita di TV karena efek negatif yang dirasakan setelahnya.

Pertanyaannya, apakah yang menyebabkan berbagai sumber media berita selalu meresahkan bagi kita. Berikut ulasannya:

1.   Kita tak hidup di tahun 80-an

Beberapa hari sebelumnya, ada yang nyeletuk begini, “Walaupun dibilang gimana-gimana, tetap jaman Soeharto yang paling enak. Harga barang murah-murah.  Gak banyak berita musibah, korupsi, pembunuhan , penyakit macem-macem.”

Ketika mendengar kalimat itu, saya hanya terdiam dengan senyum miris saja. Belakangan, memang banyak orang yang mengingat romantika masa lalu tanpa informasi yang lengkap. Lah gimana mau lengkap, kenyataannya selama dipimpin Sang Jendral selama 32 tahun itu, media semua dia yang kontrol. Banyaknya kabar manis di zaman itu bukan berarti meniadakan kabar buruk. Lagi pula saat itu, media massa belum semaju dan seberagam sekarang. Indonesia ini luas, zaman di mana berita sudah begitu memuakkan karena sangat banyaknya seperti sekarang ini, masih bejibun berita di pelosok tanah air yang tidak diketahui. Bahkan banyak orang yang menyebut media-media yang menamakan diri media nasional itu dengan sebutan media jawa, ya karena isinya didominasi berita di pulau jawa.

Belum lagi, sekarang ini, update informasi sudah hitungan detik. Kita tak lagi harus menunggu berita di koran besok pagi atau menonton berita TV di jam pagi, siang atau sore. Di zaman internet seperti ini, saat BAB dan ketika iler kering masih tertempel di sudut bibir, kita sudah tau kejadian di sudut lain dunia. Jadi yang menjadi masalah, bukan lebih banyaknya berita negatif dibandingkan zaman dulu. Melainkan kitanya saja yang telah dibanjiri beragam informasi.

2.   Televisi hanya memberikan apa yang pasar mau

Di lain waktu, ada seseorang yang berkata begini setelah menonton TV, “Ya ampuun, dunia udah kiamat”. Hal ini sering dilontarkan ketika TV selalu menghadirkan berita-berita negatif seperti kasus korupsi, hubungan badan antara anak dan ibu serta berita mencengangkan lainnya, berita-berita yang memancing emosi penontonnya. Kalau pembaca mau menghitung jumlah berita negatif dan positif saat news show, hanya hitungan jari ketika berita menyenangkan ditayangkan. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan banyak sekali berita negatif?

Jawabannya karena masyarakat kita lebih tertarik kepada sensasi. Bahkan hampir di semua lini, bukan hanya berita. Contoh misalnya, pernahkah pembaca mengamati  pola kawan, paman atau kerabat terdekat lainnya saat menonton film Holliywood. Coba setel film yang sepanjang durasinya menampilkan ledakan-ledakan dan peperangan seperti Rambo, Die Hard, Fast Fourious dan film sejenis lainnya, saya yakin semua hampir menyimak dengan khusyuk. Saya sering mengamati di sela-sela para aktor berdialog, para penonton di warung kopi dekat rumah justru mengalihkan pandangan dan melakukan aktifitas lain seperti ngobrol, memainkan HP dan lain-lain. Tapi ketika audio TV mulai memainkan suara yang berisik, semua mata kembali terarah ke layar TV. Lalu, coba putar film yang alur ceritanya menegangkan dan minim tam tum, menyediakan banyak dialog yang memancing berpikir, serta mengocok emosi penonton dengan akting pemainnya seperti film The Imitation Game, Changeling, The Theory Of Everything, dan Hidden Figures. Belum 10 menit film dimainkan, Ibu, bapak dan orang rumah lainnya pasti pada protes, “Film yang berantem gak ada?” Film serius dan inspiratif seperti itu tidak akan laku pada kebanyakan masyarakat kita. Di dunia berita, hal yang sama juga terjadi. Jika berita yang dihadirkan menghebohkan dan menimbulkan sensasi menegangkan seperti kasus teroris, korupsi, musibah, debat kusir para politisi, perkelahian anggota DPR  dan sebagainya, sangat sulit bagi kita untuk mengalihkan channel TV. Sesekali, mungkin ada beberapa berita positif seperti anak bangsa yang memenangkan event internasional, penemuan baru oleh anak negeri, keadaan ekonomi yang membaik dan sebagainya. Tapi pembaca yakin kalau ibu-ibu di rumah, bapak-bapak yang hanya menamatkan pendidikan paling tinggi SD mau nonton? Atau mungkin pembaca sendiri, yang baru berumur di bawah 40 tahun dan berpendidikan sarjana, tertarik menonton berita yang tidak membuat jantung berdegup-degup namun sarat informasi dan inspirasi? Saya yakin sih ada pembaca yang menyukai berita seperti ini, tapi kok saya agak ragu jika jumlahnya banyak. Para bos TV itu pelaku bisnis, mereka akan melakukan segala cara unuk mendapatkan uang. Caranya adalah dengan membelikan apa yang masyarakat inginkan, bukan apa yang masyarakat butuhkan. Selalu akan begitu sampai dunia kiamat. Siaran TV akan berkualitas kalau manusianya pun sudah berkualitas. Jadi jangan mengeluh jika berita di TV banyak yang meresahkan jika kita sendiri cepat bosan jika dipaksa berpikir saat acara-acara berkualitas di putar.

1 comment: