7 Perilaku Ini Mampu menutup pintu Ilmu, Apa Saja?

Sumber Gambar (careerminer.infomine.com)

Belajar tidak selalu berbicara tentang menyerap ilmu dari buku dan guru. Belajar juga berbicara tentang mencuri ilmu dari beragam peristiwa dalam hidup. Ketika menuntut ilmu dari buku dan guru, kita diharuskan memperhatikan hal-hal seperti berkonsentrasi, sopan santun dan berkemauan kuat. Untuk belajar dari pengalaman, kita dituntut memperhatikan respon perilaku atas peristiwa yang sedang dialami.

Ketika berhadapan dengan pengalaman tertentu, ada pilihan-pilihan sikap yang membuka pintu ilmu dan ada juga tingkah laku yang menghalangi ilmu menyerap di dada. Tentu respon penuh senyum dan bahagia akan terpancar di wajah ketika pengalaman menyenangkan memasuki hidup kita. Namun masalahnya, belajar dari pengalaman tak melulu menyenangkan. Banyak pengalaman hidup yang menyakitkan namun penuh akan hikmah pembelajaran. Sifat tak bersyukur ketika pengalaman menyenangkan mengetuk pintu kehidupan membuat kesempatan pembelajaran itu lewat dan keluar lewat pintu belakang sesaat setelah masuk. Marah dan kebencian yang dipelihara justru membuat ilmu terkunci di luar pintu hati dan tak bisa kita pahami.

Berikut adalah beberapa kebiasaan, tingkah laku dan sikap yang jika tetap dipelihara mampu menutup pintu ilmu. Daftar yang dibuat didasarkan pada pengalaman pribadi dan pengamatan pada orang-orang di sekitar penulis. Oleh karenanya, tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui melainkan sebagai pengingat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca.

1.  Mengabaikan terlalu banyak

Orang yang memiliki kebiasaan ini cenderung melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan. Ia akan berusaha mencari celah jika aturan tersebut tak tertulis dan berdalih “wajar” atas perbuatan yang merusak diri dan orang lain yang dilakukannya. Kebiasaan ini muncul setidaknya akibat dua hal. Pertama, terlalu sering melakukan perilaku negatif atau berinteraksi dengan lingkungan yang buruk. Jadi, batas kewajarannya telah lebih mengendur dibandingkan dengan orang kebanyakan. Pada orang ini, kumpul kebo, judi, mabuk dan menggunakan narkoba mungkin merupakan suatu hal yang biasa-biasa saja. Pada orang tertentu, ketika kita nasehati untuk tak merokok, mungkin akan dibalas, “Astaghfirullahhal Azim, kepikiran pun enggak”. Namun bagi yang lain, ketika diberitahu tentang bahaya narkoba, mungkin akan dibalas, “alaaah, biasa tu”. Kedua, kurang bisa melihat manfaat dari suatu hal yang baik. Suatu pengalaman yang menyusahkan biasanya memiliki efek pembelajaran yang optimal. Namun banyak orang-orang yang menghindari kegiatan yang menantang dan menyusahkan karena tak bisa melihat manfaat dari kegiatan itu. Sewaktu di masa kampus dulu, banyak kawan penulis yang sinis melihat teman seperkuliahannya berpeluh mengikuti kegiatan organisasi. Di antara mereka bahkan ada yang berucap, “Ngapain coba ikut organisasi? Yang didapet cuma kesal dan capek aja kayaknya. Mendingan pulang ke rumah, istirahat!” Padahal kalau ditanya mahasiswa yang dilihatnya lelah dan kesal tadi, tentu banyak pengalaman yang diakui didapatnya. Sesuatu yang baik memang butuh pengorbanan. Jadi berpeluh untuk belajar itu wajar. Kebiasaan ini menciptakan kebiasaan menyepelekan banyak hal. Akibatnya, kesempatan untuk belajar terlewatkan begitu saja.

2.  Marah/Resah terlalu cepat

Kenyataannya, sudah dan akan ada banyak masalah yang kita lalui setiap hari. Jika kita lebih banyak memilih respon yang sama setiap mengalami masalah, maka respon itu menjadi sebuah kebiasaan yang akan menetap sampai tua. Jika sejak anak-anak dan remaja kita selalu memilih jalur amarah ketika menghadapi masalah, kita akan menjadi pribadi yang mudah marah ketika menghadapi masalah di masa tua. Saat kita menyelesaikan banyak masalah dengan kepala dingin di masa anak-anak dan remaja, kita akan terlatih mencari solusi dengan minim kegaduhan dan dengan cara yang menyenangkan di kala berusia senja. Sesungguhnya kepribadian kita sekarang merupakan hasil dari latihan di masa muda.

Setidaknya ada dua penyebab kenapa ada orang-orang yang cepat marah ketika terdera masalah yang membuat resah. Pertama, manja dan jarang susah. Jika sejak kecil kita selalu dibela oleh orang tua setiap ada masalah, kita belajar menjadi pribadi yang merasa benar. Ketika tua nanti, diri ini menjadi pribadi yang selalu merasa benar, tak mau tau meskipun diri ini yang salah. Padahal jika mengakui kesalahan, akan banyak ilmu yang masuk karena bersedia intropeksi diri. Ketika orang tua tak lagi ada untuk membela, kita belajar meniru respon mereka untuk membela diri dengan marah-marah dan penuh emosi. Kita belajar jarang susah karena selalu ada orang yang membela. Efeknya kita tak memiliki pengalaman untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Jarang susah ini tidak hanya berarti karena sering dimanja tetapi juga karena ketidakinginan kita untuk bersusah-susah di masa lampau. Efeknya alih-alih menggunakan pikiran sehat dan penuh logika, kita justru memilih naluriah hewani, menyerang dan marah-marah karena tak memiliki pengalaman pemecahan masalah sebelumnya.

Kedua, bosan disakiti. Pernahkah pembaca merasa aneh pada diri sendiri? Padahal sudah tau diri ini salah, tapi kenapa masih ego membenarkan diri? Meskipun orang lain yang benar, tapi tetap kekeuh untuk marah-marah? Mungkin penyebabnya adalah bosan disakiti. Pada diri kita, ada yang namanya alam sadar dan alam bawah sadar. Alam sadar mencakup ingatan-ingatan dan konsep-konsep di kepala. Sedangkan alam bawah sadar, mencakup penyimpanan data banyak hal, utamanya adalah perasaan. Nah, banyak perilaku saat ini yang dikontrol oleh alam bawah sadar. Ketika mengalami suatu peristiwa di masa lalu, alam bawah sadar menyimpan bagaimana perasaan kita saat peristiwa tersebut. Bagi orang yang sering di-bully di masa kecil, perasaan sedih, marah dan takut menjadi pengalaman memuakkan yang akan mencapai batasnya. Di masa mendatang, ketika dihadapi pada suatu masalah yang memancing munculnya perasaan yang sama, batasan tersebut suatu saat akan muncul, tak penting apakah penyebabnya di-bully atau justru pengalaman yang menyusahkan namun penuh pembelajaran. Ada sesuatu di dada yang tanpa kita sadari berkata, “cukup! Saya gak mau lagi mengalami perasaan yang menyebalkan ini”. Efeknya ada dua. Pertama marah untuk menghadang perasaan menyakitkan itu. Kedua, bersikap seolah mendengarkan atau memberi perhatian penuh hanya untuk menyenangkan orang di sekitar agar tak diterpa lagi perasaan menyakitkan tadi. Padahal dalam hati akan berkata, “halah, itu lagi-itu lagi”. Ini yang namanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

3.  Berbicara terlalu banyak, sedikit mendengarkan

Jika anda sedang bertutur cerita, lalu di tengah-tengah anda bicara, lawan anda ngobrol juga ngomong, apakah anda bisa menangkap apa yang diutarakan lawan bicara anda? Tentu saja tidak, kita sering kali mesti berhenti mengucap, menelengkan kuping ke arah lawan bicara lalu bertanya, “apa?”

Ketika berbicara, meskipun indra pendengaran tetap bekerja, kita tak bisa menangkap apa yang diucap orang di depan melainkan hanya kata-kata tanpa makna yang masuk gendang telinga. Sedangkan ilmu sering masuk melalui dua cara, mata dan telinga. Banyak pengalaman-pengalaman orang yang bisa menjadi pembelajaran, justru terabaikan karena kita lebih suka berbicara. Banyak berbicara mengandung dua makna. Pertama, terlalu banyak keluhan yang perlu disampaikan. Merasa diri banyak masalah sedangkan orang lain tidak. “Tak ada orang lain yang merasakan kesusahan seperti yang kurasakan,” begitu mungkin pikiran mereka yang mengeluh terlalu banyak. Bagi banyak orang, mengeluh adalah cara mereka untuk merasa istimewa. Akibatnya, mereka sibuk berbicara tentang betapa menderitanya mereka, tak penting apa solusi dari orang di sekitarnya. Kedua, banyak bicara mengandung makna bahwa kita sering kali sibuk dengan keinginan agar ingin didengar. Seolah terlalu banyak merasa benar sehingga opini kita perlu didengar orang lain. Bagi orang yang seperti ini, kesempatan untuk bicara merupakan sesuatu yang dinantikan. “Tunggu ketika aku berbicara, kalian akan terpana,” seperti itulah kira-kira yang dipikirkan orang tipe ini.

4.  Meyakini pelabelan sebagai fakta

Melabeli atau dilabeli dan divonis atau memvonis merupakan perilaku yang semakin lumrah. Adakalanya, kita menampik vonis yang mendarat di diri ini mentah-mentah, di lain waktu, kita menerimanya tanpa sadar. Jika lebih dari 100 orang melabeli kita bodoh, tak masalah jika diri ini tak meyakininya. Berbahaya itu ketika kita menerima vonis tersebut. Jika banyak orang yang memvonis kita pemalu dan kita pun meyakini pemalu sebagai suatu hal yang tak bisa diubah, maka kita membatasi diri untuk menjadi orang yang lebih berani. Jika seorang siswa meyakini ia tak mampu pelajaran matematika hanya karena 3 kali mendapatkan nilai jelek di pelajaran matematika, maka ia membatasi diri untuk mempelajari matematika lebih lanjut. Terkadang orang dengan egoisnya memvonis kita akan hal tertentu, tapi di lain waktu kita dengan bodohnya memvonis diri sendiri atau meyakini vonis dari orang lain. Untuk melihat bahanyanya memvonis, silahkan baca artikel berikut ini, klik di sini

5.  Bersembunyi terlalu sering

Bersembunyi terlalu sering juga bermakna lari dari masalah. Padahal, menyelami masalah merupakan suatu pengalaman berharga dibandingkan hanya menikmati zona nyaman yang telah lama dinikmati. Contoh kasus misalnya, ada seorang siswa bernama Yudi yang memiliki kebiasaan takut berbicara dan maju ke depan kelas. Jadi ia selalu menghindari kesempatan dengan bersembunyi setiap kali diberikan kesempatan maju. Padahal masalahnya ini akan mengejarnya sepanjang tahun selama ia mengecap pendidikan sekolah. Setiap seorang guru memberikan jeda kepada siapa saja yang ingin bertanya sambi mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, maka di saat itu pulalah Yudi menundukkan pandangan dan jantungnya berdegup keras sampai satu atau beberapa orang temannya ditunjuk guru untuk bertanya. Jika Yudi, memutuskan untuk maju, mungkin Ia akan merasa super malu dan ketakutan pada beberapa kali kesempatan saja. Setelah itu, Ia akan menemukan suatu ilmu simpel tentang maju ke depan kelas dengan kepuasan optimal.

Belajar memang sering kali membutuhkan pengorbanan. Menuntut ilmu memang melelahkan secara fisik maupun mental. Tapi seperti itulah sesuatu yang berharga, butuh usaha keras mendapatkannya.

6.  Berpikir terlalu sempit

Berpikir terlalu sempit memiliki logika hitam putih. Kalau seseorang tidak suka sama kita, berarti dia benci. Kalau seseorang tidak jahat, berarti dia baik. Sudah terbayangkan arahnya? Jika kita dengan mudahnya memvonis dan mengkotak-kotakkan orang, maka pintu ilmu akan tertutup dari orang yang kita beri cap tak baik. Karena otomatis kita akan menjauhi seseorang yang kita cap pemarah, kikir, iri hati dan sebagainya. Jika kita mencap seorang guru matematika sebagai orang yang pilih kasih, maka kita cenderung membenci dirinya dan pelajaran yang diajarkannya. Jika kita mencap seorang manager di kantor sebagai orang yang sombong, maka nasehat apapun yang dicapkan atasan tak akan masuk di kepala. Saya selalu yakin tak ada orang yang memiliki suatu sifat dengan totalitas. Tak ada yang namanya orang yang baik 100% dan tak ada orang yang jahat 100%. Setiap orang memiliki keduanya. Jika kita hanya fokus sifat negatifnya saja, maka kita tak akan belajar banyak darinya.

7.  Menyerah terlalu cepat

Pernahkah pembaca mendengar potongan dialog sinetron semacam ini?
Anak  : Tunggu Ayah! Dengar dulu penjelasan ku
Ayah  : Cukup! Tak perlu lagi kau jelaskan apapun! Sudah muak ku lihat perilakumu
Anak  : Bukan seperti itu Ayah...
Ayah  : Pergi! Tak sudi lagi kulihat wajahmu!
Pada bagian ini, kita yang menonton tentu sangat geram dan sering kali berujar dalam hati, “aduuuuuhh, kenapa gak mau didenger aja omongan anaknya dikit lagi?”. Sebagai penonton, kita berpikir jika Sang Ayah tak cepat menyerah pada anaknya, dia mungkin akan mencintai anaknya seperti sedia kala.

Dalam hidup, kita sering kali seperti ini, menyerah hanya karena sekali atau dua kali gagal dan menerima bahwa kita tak mampu mengerjakan suatu hal dengan baik. Padahal, jika sedikit saja kita mengeluarkan keringat dan tak menyerah terlalu cepat, kita akan menyadari bahwa diri ini mampu melakukan banyak hal.


****
Masuknya tidaknya suatu ilmu sering tergantung dari bagaimana cara kita bersikap. Mari memilih respon yang tepat agar ilmu terpatri di dada. Semoga tulisan ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,khusunya saya.

No comments:

Post a comment