Teori Tak Sejalan Dengan Praktek, Benarkah?


Enggak ada gunanya teori itu, ketika di lapangan nanti, yang dibutuhkan cuma kreasi dan inovasi, teori ke laut aja,” kata seorang guru BK. Kalimat semacam itu sering saya dengar ketika melakukan penelitian beberapa minggu lalu. Para guru kompak menyatakan bahwa hampir kebanyakan (kalau tidak bisa dibilang semua) teori yang mereka pelajari di perkuliah tidak berguna di lapangan.

Seolah memiliki pengalaman yang sama, pernyataan teori tak sejalan dengan praktek sering diungkapkan banyak orang. Ketika memasuki organisasi kemanusiaan beberapa tahun lalu, kakak senior sering kali mengungkapkan pernyataan tersebut. Setelah mengungkapkan pengalamannya bertugas di lapangan, mereka selalu menutup akhir pembicaraan dengan kalimat semacam, “kalian boleh saja mempelajari teori, tapi jangan terpaku, di lapangan nanti sikap kreatif dan ramah pada diri kalian yang berfungsi.”

Selain beberapa contoh di atas, sebenarnya banyak contoh lain. Tapi secara umum, pernyataan tersebut hampir banyak diucapkan oleh pekerja sosial yang sangat sering berurusan dengan banyak orang.

Lalu, apakah betul pernyataan tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita mulai dengan pertanyaan simpel. Jika ilmu di perkuliahan itu memang tidak bermanfaat, lalu buat apa banyak orang yang hingga sekarang tidak hentinya melakukan penelitian dan melakukan penemuan yang terkait dengan manusia itu sendiri? Jika tidak berguna, bagaimana mungkin teori psikoanalisisnya Sigmund Freud, teori humanistik, behavior serta teori-teori lain masih bertahan dan masih digunakan oleh banyak pekerja ahli hingga sekarang?

Karena satu hal yang mesti dipahami, bahwa ilmu alam dan ilmu sosial itu beda. Cara kita berhubungan dengan benda dan manusia pun berbeda. Pertanyaan ilmu alam seperti mengapa sebuah lampu bisa menyala dapat dijawab dengan pernyataan yang pasti dan tidak bercabang. Pertanyaan ilmu sosial seperti mengapa suku madura dikenal dengan “wataknya yang keras” akan membutuhkan banyak sekali jawaban dan cenderung tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Begitupun dengan cara kita berhubungan dengan benda dan manusia. Jika kamu menemukan mobilmu rusak, biasanya hal yang pertama dilakukan adalah mengecek seluruh bagian mobil dan ketika menemukan alat atau komponen yang rusak, kamu tinggal mengganti dengan alat baru atau mungkin cukup diperbaiki saja. Tapi jika kamu menemukan bahwa kawan atau siswamu memiliki masalah seperti sifat pemalu yang berlebihan, kamu tidak bisa langsung memberikan solusi. Kamu perlu menelaah dulu penyebab malu yang ia alami. Dan seringkali, malu itupun memiliki banyak alasan yang tidak bisa sehari dua hari teratasi. Itulah mengapa ada istilah ilmu pasti yang dilekatkan pada satu bidang ilmu dan tidak pada lainnya.

Memang seringnya tidak sesimpel itu bagi ilmu alam, tapi setidaknya begitulah perbedaannya.

Atau, tanpa membeda-bedakan ilmu alam dan ilmu sosial, dalam mencari solusi untuk suatu benda atau manusia, kebutuhan akan banyak ilmu memang sangat perlu. Jika kamu pernah mendengar salah satu dosen mengatakan bahwa salah satu penyebab mogoknya mobil karena kotornya bagian dalam mesin, kamu jangan melupakan bahwa dosen itu pernah mengucapkan kalimat salah satu. Artinya, masih banyak sebab lain yang menyebabkan mobil itu mogok. Jika dosenmu pernah mengatakan bahwa salah satu penyebab pemalu adalah karena sering di-bully, kata salah satu itu jangan kamu lupakan.

Coba deh bayangkan bagaimana akibatnya jika seorang bakal montir selalu menghafal-hafal kalimat dosennya bahwa jika motor mogok karena akibat bensin yang dioplos air. Yakin deh, itu orang enggak akan jadi montir karena selalu nyalahin dosennya dulu. Makanya diperlukan proses belajar yang tidak habis-habisnya. Begitu juga dalam ilmu sosial, seorang menjadi pemalu bisa karena banyak hal, bukan hanya karena di-bully, bisa saja karena kurang pergaulan, faktor bawaan, trauma masa lalu, kurang kasih sayang dan banyak lainnya. Manusia itu kompleks dan berbeda-beda. Dan manusia itu kompleks bukan saja karena hasil dari perbandingan dengan orang lain, melainkan selaku pribadi, orang tersebut memang sudah kompleks. Itulah sebabnya banyak sekali teori psikologi dan kepribadian. Oleh karenanya, hanya menguasai satu teori saja tidak cukup membantu di lapangan nanti.


Banyak belajar dalam ilmu sosial merupakan hal sangat penting karena kajian ilmu sosial sangatlah luas. Jadi enggak perlu nyalahin dosen kalau kita memang pada dasarnya kurang mau belajar. Ilmu itu luas dan enggak mungkin cukup dilahap dalam 4 tahun. Jadi, selamat belajar J


Sumber gambar: dualapanjuli.blogspot.com 

No comments:

Post a comment