Buatkan Adek Buku!!!



 “Abang suka nulis ya?” tanyanya dengan lembut di suatu sore cerah di kantin kampus. Bagiku dia cukup cantik. Dengan pakaiannya yang serasi dan senyum manis diwajahnya, saya ragu akan ada lelaki yang tidak menyukainya.

“Suka sih dek, tapi cuma gitu-gitu aja. Kalau lagi pas kepala nulis, kalo gak ya gak. Itu pun nulisnya cuma di blog”, jawabku seadanya sambil memandang gelas yang isinya hampir habis.

“Oh adek suka tulisan abang yang di blog, abang pinter ya nulisnya”, lanjutnya dengan kelembutan suara yang menentramkan.

Tau bahwa orang yang dicinta ternyata juga perhatian pada tulisanku di blog. Hatiku melambung. Aku pernah menulis sesuatu di blog secara samar untuknya dan berharap dia pun membaca. Dengan penasaran aku pun bertanya, “adek baca semua tulisan abang di blog?”

“iya bang semua, dari pertama kali abang buat blog sampe sekarang. Adek cek sesekali blog abang. Siapa tahu ada tulisan baru”, jawabnya dengan senyum malu-malu menggemaskan.

Aku tak langsung membalas. Aku terpana karena kaget dan bingung. Ah, ternyata dia baca tulisanku semua. Termasuk tulisan samarku untuknya. Pikiranku berkelana, apakah dia tau bahwa salah satu tulisanku untuknya. Kalau dia tau, kenapa dia bersikap biasa saja.

“Kenapa abang gak buat buku aja, tulisan abang bagus-bagus kok, 95 persen dari tulisan abang adek suka”, katanya menyarankan tiba-tiba.

“Abang belum punya kemampuan khusus dek untuk nulis, nulis cerpen aja gak pernah apalagi novel”, balas ku seadanya. Aku tak begitu yakin dengan idenya. Bagiku, aku belum mampu untuk mengarang buku.

“Buat lah terus bang bukunya. Abang pintar, pasti bisa. Seandainya abang malas, buat lah buku itu demi adek bang”, pintanya memelas. 

“Adek mau abang buat kan buku?”

“Iya bang, buat terus bang ya….”

“kalau demi adek abang mau buat buku…”

“Ih, yang betul bang? serius nih.… ” tanya nya dengan penuh keriangan.

“Iya demi adek”

Dengan suka cita iya menatap wajahku lalu berkata, “kalau abang udah selesai nulisnya, kasih liat adek ya hasilnya sebelum dikasih ke penerbit, adek bantuin edit!”

“Gak perlu di edit kok bukunya”, jawabku dengan senyum

“Loh kok gitu?”

“Ya karena memang begitu. Abang cuma perlu persetujuan adek kok untuk buat buku ini”

“Buat apa persetujuan adek? emang abang mau buat buku apa sih?”

“Buku nikah sama adek, adek mau?” jawabku dengan senyum mengembang.

“ini serius apa becanda?”. Ketika bertanya itu, senyum manisnya menghilang, terganti dengan tatapan penuh keseriusan.

“serius”, jawabku mantap.

“Adek mau, tapi minta dulu sama ayah adek”, jawabnya dengan ekspresi wajah yang sama. Beberapa menit kemudian, senyum kami mengembang penuh arti.

 ****

Hahaha, alah lai, leh peu ku tuleh.

No comments:

Post a comment